''Jelek ya?'' Engkau membolak-balikan kotak tua dari kaleng itu, sudah berkarat dan tampak sekali usangnya.
''Tapi ini yang selalu di pakai Ibu untuk menampung koin-koin recehan itu, dan sampai akhirnya memberiku dana buat sewa kebaya di saat pelulusan dulu.'' tuturku, menatapmu seolah berusaha menahan Engkau membuang benda tua itu.
''Baru tahu jika kamu seorang pecinta barang-barang tua. Tapi benda ini hanya membuat dekorasi yang kita buat hancur.''
Mataku menyipit, metatap sepasang mata yang tengah menatapku dengan pandangan sepele.
''Maaf Mas, itu peninggalan Ibuku.'' sahutku, Engkau terdiam.
Kurampas kotak kaleng usang itu, kemudian bergegas keluar dari ruang tamu yang dinding, sofa, dan semua benda di sana berwarna putih susu.
''Sudahlah! Tempatkan saja di meja kerjamu, seperti telpon tua peninggalan Ayahku.'' Engkau mengikuti langkahku dan mencoba menarik tanganku. ''Kau lupa dengan komitment kita dalam rumah tangga modern?'' Lagi-lagi Engkau bicara nonsense.
''Rumah tangga modern?... Maksudnya?'' tak di sangka jika suamiku adalah seorang Pria yang aneh menurutku.
''Iya-a... dalam rumah tangga modern, kita tidak boleh melanggar privasi masing-masing. Ada yang perlu kita share dan ada pula yang tidak, dan aku tak ingin semua masalah pernak-pernik rumah ini hanya berada di tanganmu. Kau tahu? Aku ini anak Perdana Menteri, bagaimana pendapat tamu-tamuku saat melihat ke anehan di rumah ini?'' menurut Engkau kotak tua dan usang itu aneh berada di antara kristal dan benda-benda mahal yang putih itu.
''Mas, dalam rumah tangga modern hak istri masih sama. Aku masih punya hak untuk mempertahankan apa-apa yang aku mau!'' Engkau tersenyum.
''Simpanlah!'' Menarik tubuh dari rangkulanmu memang tak pernah mampu ku lakukan. Aku masih mampu merasakan kehangatan pelukanmu di tengah-tengah kesombonganmu. Apakah Engkau mencintaiku tulus? atau hanya karena aku wanita pintar? menurutmu, sekarang ini aku bodoh karena mempertahankan kotak kaleng usang di rumah megah bak istanamu.